
DEMOKRASI - Musibah banjir bandang yang melanda Jembrana, Bali, berakibat pada rusaknya rumah warga. Salah satunya adalah warga Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalciring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, yang bernama Ni Ketut Joni (65). Dalam bahasa Bali logat Jembrana, ia mengungkapkan, bahwa barang-barangnya hanyut terbawa banjir.
"Bagaimana saya ini Pak, tidak jadi saya berhari Raya Galungan, semuanya habis dibawa banjir, tolongin saya Pak," ucapnya, Minggu (23/12).
Ni Ketut Joni, adalah satu satu dari puluhan warga yang menjadi korban banjir bandang tadi malam di Jembrana. Janda yang masuk warga miskin ini hanya bisa meratapi nasibnya dan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah.
"Semuanya habis Pak, tidak ada yang tersisa. Tiga ekor babi saya hanyut dibawa banjir, pakaian saya juga. Jejaitan untuk Galungan juga semuanya hanyut," tuturnya sambil berlinang air mata.
Di samping itu, banjir bandang yang terjadi tadi malam juga merobohkan bangunan pelinggih miliknya. Beruntung dia bersama keluarga dan warga lainnya bisa menyelamatkan diri sehingga terhindar dari ganasnya terjangan banjir bandang.
Saat ini dia kebingungan lantaran hari raya Galungan dan Kuningan sudah dekat, segala sesuatu yang telah dia siapkan untuk Galungan lenyap. Untuk membuat dan membeli perlengkapan yang telah lenyap dibawa banjir, dia mengaku tidak mampu lantaran tidak memiliki uang. Maklum penghasilannya sebagai buruh serabutan hanya Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per hari.
"Saat ini saya hanya berharap bantuan dari pemerintah, terutama makanan karena dari tadi pagi saya dan warga lain yang kena musibah belum makan," ujarnya lirih.
Sementara dari pendataan awal yang dilakukan pihak BPBD Jembrana, sekitar 60 KK warga yang terkena banjir bandang. Di antara itu beberapa rumah warga rata dengan tanah tersapu banjir. Juga lahan pertanian berupa sawah di Desa Penyaringan hancur. Sawah-sawah tersebut di antaranya berisi padi yang baru ditanam dan semangka.
Selain itu, beberapa ternak milik warga berupa sapi dan babi juga hilang disapu banjir. Sedangkan empat mobil terseret banjir bandang hingga terguling. Namun dipastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.
Menurut Putu Adi (46), salah seorang warga setempat, musibah banjir bandang yang cukup parah ini merupakan bencana untuk kedua kalinya di wilayah tersebut, setelah sebelumnya pada tahun 1998 pernah terjadi dengan kerusakan parah serta kerugian yang tidak sedikit.
"Kalau kejadian banjir bandang yang pertama dulu di samping menimbulkan kerusakan yang cukup parah, juga menimbulkan satu korban jiwa," tutupnya.
SUMBER
