
DEMOKRASI - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyoroti soal bobroknya prestasi olahraga Indonesia belakangan ini. Bahkan dia menyebut Indonesia sebagai bangsa kalahan.
Hal tersebut dia ucapkan saat memberikan orasi ilmiah di acara Wisuda 1.062 mahasiswa Universitas Bung Karno.
Ia mencontohkan, di bidang olahraga, Indonesia harus memungut kekecewaan karena berada di peringkat kelima.
Indonesia dengan populasi 250 juta jiwa, justru kalah dengan Singapura yang berpenduduk lima juta jiwa yang berada di peringkat ke-4, di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
"Hebatnya elite kita santai. Oh itu hanya olahraga. Buka buku, olahraga itu cermin kekuatan fisik anak-anak kita. Olahraga cermin kekuatan jiwa anak-anak kita. Zaman Bung Karno kita masuk putaran final Piala Dunia," katanya di Gedung Balai Sudirman, Jalan Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).
Prabowo pun menyayangkan kesukaan pemerintahan Indonesia sekarang yang dinilai lebih suka menambah utang.
“Padahal Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, penghasil kopi terbaik kedua di dunia setelah Brazil, penghasil kakao kedua terbaik di dunia, karet, timah, nikel, uranium, dan lain-lain. Tetapi kenapa pemerintah sekarang justru lebih suka utang,” keluhnya seraya disambut tepuk tangan ribuan mahasiswa.
Prabowo yang mengenakan baju daerah betawi berwana hitam ini memaparkan isi dari buku yang ditulisnya berjudul ‘Paradoks Indonesia’.
“Pada tahun 1997 Indonesia surplus devisa 25 miliar USD, kalau dihitung sampai 2011 harusnya 375 miliar USD, tapi saya lihat hanya ada 88,6 miliar USD. Berarti ada kebocoran 286,4 miliar USD atau 76 persen, tambang kita juga mengalami kebocoran 75 persen, minyak bocor 75 persen, fasilitas publik 70 persen, dan perbankan lebih dari 50 persen,” paparnya.
“Lalu di mana kekayaan kita, lihat gedung-gedung di Jakarta, coba tunjukkan mana yang milik Indonesia. Indonesia hampir tak memiliki sektor usaha di negerinya sendiri,” ujarnya.
Oleh karena itu ia meminta para wisudawan tak kaget bila kesulitan mencari kerja.
“Dari fakta itu tak heran bila warga negara kita susah mencari pekerjaan, Indonesia tak punya pabrik, tak bisa produksi motor atau televisi sekalipun. Kita negara terkaya nomor enam tapi tak bisa memproduksi apa-apa,” pungkasnya.
SUMBER
