
DEMOKRASI - Asupan pangan menjadi salah satu modal pembentukan manusia berkualitas. Hal itu sangat berpengaruh pada kesehatan dan pendidikan di masa depan. Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Esta Lestari mengatakan, ada gap yang tinggi antara ketersediaan pangan dan hasil produksi pangan.
" Kebocoran pangan kita masih sangat tinggi. Salah satu faktor penyebabnya pada sarana pascapanen," ujar Esta Lestari di kantornya, Jumat(3 November 2017). Selain itu, penyebab gap tersebut karena tidak diikuti oleh produksi komoditas lain. Tertinggi, menurut Esta komoditas lokal tersebut berupa kelapa sawit.
Esta menyebutkan, data LIPI jumlah produksi beras pada 2014 mencapai 70 juta ton, sementara ketersediaan beras hanya 40 juta ton. Tahun 2013 jumlah produksi beras di atas 70 juta ton, tapi ketersediaan beras kurang dari 40 juta ton.
Lebih jauh Esta mengungkapkan, rendahnya produksi lokal di daerah menyebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap beras. Faktor infrastruktur juga berkontribusi pada pemerataan pangan di Indonesia.
" Untuk beras gejolak harga cenderung tinggi di Indonesia Timur dan kepulauan. Hal ini mendorong divesiifikasi pangan," jelas Esta. Faktor keterbatasan pangan khususnya beras, menurut Esta menimbulkan pola konsumsi masyarakat di Indonesia Timur seperti Papua beralih ke makanan siap saji. Karena kebutuhan kelompok masyarakat miskin untuk pengeluaran makanan mencapai 60 persen.
" Jadi, stabilitas harga sangat penting untuk masyarakat ekonomi miskin," katanya. LIPI merilis, kebutuhan beras satu tahun untuk masyarakat Indonesia sebesar 100 Kg/ orang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan negara Thailand. " Yang mengkuatirkan konsumsi tepung terigu masyarakat kita tinggi, yakni 15 Kg/ orang. Kenapa, karena bahan pangan ini tidak bisa kita produksi. Selama ini kita bergantung dari impor," bebernya.
SUMBER
