logo
×

Iklan

Senin, 09 Oktober 2017

Komentar

Tidak Ambisius, “Presiden Gatot Nurmantyo” adalah Solusi Terbaik

Tidak Ambisius, “Presiden Gatot Nurmantyo” adalah Solusi Terbaik

By Asyari Usman

Berani berkata apa adanya tanpa beban, adalah kualitas personal (pribadi) yang tidak lagi mudah dijumpai di kalangan figur senior bangsa. Alhamdulillah, rakyat Indonesia beruntung karena di tengah situasi yang gonjang-ganjing sekarang ini figur yang langka itu, akhirya, muncul juga.

Di dalam tulisan terdahulu, kita sepakati bahwa Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak menunjukkan ambisi politik. Tidak berambisi menjadi presiden ketika dia berbicara apa adanya tentang situasi negara. Pak Gatot tampak datar, natural, dan fokus pada kekhawatiran terhadap potensi ancaman keamanan. Fokus pada bahaya komunisme-PKI. Itu semua murni karena patriotisme beliau untuk bangsa dan negara, bukan karena membayangkan Pilpres.

Dan Pak Gatot juga tidak punya maksud apa-apa ketika mengisyaratkan bahwa pemilikan senjata api ilegal, khususnya jenis yang hanya boleh dipakai militer, sangat mencemaskan masyarakat.

Sekali lagi, Jenderal GN tidak punya ambisi apa pun. Itulah kesimpulan kita.

Tetapi, apakah “tidak ambisius” itu membuat kita harus mendiamkan saja potensi Jenderal Gatot? Apakah kita tidak boleh mendiskusikan potensi beliau untuk memimpin negara? Apakah salah kalau kita mengeksplorasi kemungkinan Pak Jenderal didorong untuk memimpin Indonesia?

Tentu tidak ada masalah. Pertama, ini hak semua orang. Kedua, Jenderal yang tak berambisi menjadi presiden, bukan berarti beliau tak boleh kita usulkan ikut Pilpres. Sangat pantas, sepanjang bukan pihak beliau yang menginisiasikanya.

Posisi “tidak ambisius” dan kondisi “permintaan rakyat”, adalah dua hal yang berbeda. Kalau beliau berkenan menerima permintaan rakyat, itu berarti rakyatlah yang berambisi. Tidak merusak sedikit pun posisi “non-ambisius” beliau.

Bagi rakyat, situasi beginilah yang paling ideal. Rakyat datang kepada tokoh cerdas-tegas yang tidak ambius, meminta kesediaan beliau maju ke Pilpres 2019. Bagaikan “gayung bersambut”, beliau kemudian akan menyatakan kesedian dalam bahasa apa adanya tanpa dibayangi balas budi. Tanpa dibayangi oleh kewajiban bayar hutang kepada “para investor” sebagaimana dialami oleh rata-rata presiden di mana pun.

Sekarang, apa yang harus dilakukan oleh rakyat?

Para tokoh politik yang merasa aspirasi mereka terwakili oleh Jenderal Gatot, sebaiknya tidak menunda pendekatan kepada beliau. Saya yakin pendekatan itu sedang gencar dilakukan oleh banyak pihak. Tetapi, saya yakin juga bahwa Pak Gatot tidak akan gegabah menerima pendekatan. Beliau pasti selektif dengan pertimbangan situasi yang ada ini. Jenderal Gatot paham betul siapa-siapa saja yang akan tulus mendukung beliau.

Beliau sudah tahu siapa yang bakal datang untuk menjebak agar beliau tidak menjadi “magnet” bagi rakyat. Dia tahu persis siapa saja yang mungkin akan datang sekadar basa-basi, yang bertujuan untuk “mengekang” beliau.

Meskipun Jenderal tidak ambisius, beliau pasti akan instinktif tentang orang-orang yang bisa terkoneksi secara tulus dengan beliau. Pak Gatot paham untuk siapa beliau akan berjuang seandainya dia memutuskan untuk menerima “ambisi rakyat” di Pilpres 2019.

Karena itu, kita mendorong agar semua orpol dan ormas yang merasa seiring-sejalan dengan Jenderal Gatot, agar segera mengambil langkah yang lebih konkret untuk memberikan sinyal kepada Jenderal bahwa beliau diperlukan rakyat demi mencegah situasi yang lebih buruk.

Sudah sangat jelas bahwa dari arah mana pun Anda memandang, “Presiden Gatot Nurmantyo” adalah solusi terbaik yang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara.

(Penulis adalah wartawan senior)

SUMBER
loading...